<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Dunia Islam dan Pesantren. Politik santri, canda santri  dan kelakuan santri.</title>
	<link>http://pesantren.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:09:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Sa&#8217;id bin Amir bin Huzaim Al-Jumahy ra</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/said-bin-amir-bin-huzaim-al-jumahy-ra/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/said-bin-amir-bin-huzaim-al-jumahy-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Sahabat</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/said-bin-amir-bin-huzaim-al-jumahy-ra/</guid>
		<description><![CDATA[	Abu Nu&#8217;aim mengeluarkan                dari Khalid bin Ma&#8217;dan, dia berkata, &quot;Umar bin Al-Kbaththab ra.                mengangkat Sa&#8217;id bin Amir bin Huzaim ra. sebagai amir kami di Himsh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><font>Abu Nu&#8217;aim mengeluarkan                dari Khalid bin Ma&#8217;dan, dia berkata, &quot;Umar bin Al-Kbaththab ra.                mengangkat Sa&#8217;id bin Amir bin Huzaim ra. sebagai amir kami di Himsh.                Ketika Umar datang ke sana, dia bertanya, &quot;Wahai penduduk Himsh,                apa pendapat kalian tentang Sa&#8217;id bin Amir, amir kalian?&quot; Maka banyak                orang yang mengadu kepada Umar ra. Mereka berkata, &quot;Kami mengadukan                empat perkara. Yang pertama karena dia selalu keluar rumah untuk                menemui kami setelah hari sudah siang.&#8217; Umar ra. berkomentar, &quot;Itu                yang paling besar. Lalu apa lagi?&#8217; Mereka menjawab, &quot;Dia tidak mau                menemui seseorang jika malam hari.&quot; &quot;Itu urusan yang cukup besar,&quot;                komentar Umar ra. Lalu dia bertanya, &quot;Lalu apa lagi?&quot; Mereka menjawab,                &quot;Sehari dalam satu bulan dia tidak keluar dari rumahnya untuk menemui                kami.&quot; &quot;Itu urusan yang cukup besar,&quot; komentar Umar ra. Lalu dia                bertanya, &quot;Lain apa lagi?&quot; Mereka menjawab, &quot;Beberapa hari ini dia                seperti orang yang akan meninggal dunia.&quot; </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Kemudian Umar bin                Al-Khaththab ra. mengkonfirmasi di antara Sa&#8217;id bin Amir ra. dan                orang-orang yang mengadukan beberapa masalah tersebut. Saat itu                Umar ra. berkata kepada dirinya sendiri, &quot;Ya Allah, jangan                sampai anggapanku tentang dirinya keliru pada hari ini.&quot; Lalu dia                bertanya kepada orang-orang yang mengadu, &quot;Sekarang sampaikan apa                yang kalian keluhkan tentang diri Sa&#8217;id bin Amir ra.!&#8217; </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>&quot;Dia selalu keluar                rumah untuk menemui kami setelah hari sudah siang,&#8217; kata mereka.                Sa&#8217;id menanggapi, &quot;Demi Allah, sebenamya aku tidak suka untuk mengungkapkan                hal ini. Harap diketahui, keluargaku tidak mempunyai pembantu, sehingga                aku sendiri yang harus menggiling adonan roti. Aku duduk sebentar                hingga adonan itu menjadi lumat, lalu membuat roti, mengambil wudhu&#8217;,                baru kemudian aku keluar rumah untuk menemui mereka.&quot;</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Umar bertanya kepada                mereka, &quot;Apa keluhan kalian yang lain?&quot; Mereka menjawab, &#8216;Dia tidak                mau menemui seorangpun pada malam hari.&quot; &#8216;Lalu apa alibimu?&#8217; tanya                Umar ra. kepada Sa&#8217;id bin Amir ra. &quot;Sebenarnya aku tidak suka                untuk mengungkapkan hal ini. Aku menjadikan siang hari bagi mereka,                dan menjadikan malam hari bagi Allah.&quot; </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>&quot;Apa keluhan kalian                yang lain?&quot; tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, &quot;Sehari dalam                satu bulan dia tidak mau keluar dari rumahnya untuk menemui kami.&quot;                &quot;Apa alibimu? tanya Umar ra. kepada Said ra. &quot;Aku tidak mempunyai                seorang pembantu yang mencuci pakaianku, di samping itu, aku pun                tidak mempunyai pakaian pengganti yang lain.&quot; Maksudnya, hari itu                dia mencuci pakaian satu-satunya. </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>&quot;Apa keluhan kalian                yang lain?&quot; tanya Umar kepada mereka. Mereka menjawab, &quot;Beberapa                hari ini dia seperti orang yang akan meninggal dunia.&quot; &quot;Apa alibimu?&quot;                tanya Umar ra. kepada Sa&#8217;id ra. Sa&#8217;id ra. menjawab, </font></p>
	<div align="justify">
<blockquote>
<p><font>&quot;Dulu aku menyaksikan                  terbunuhnya Hubaib Al-Anshary di Makkah. Aku lihat bagaimana orang-orang                  Quraish mengiris-iris kulit dan daging Hubaib ra. lalu mereka                  membawa tubuhnya ke tiang gantungan. Orang-orang Quraisy itu bertanya                  kepada Hubaib, &#8216;Sukakah engkau jika Muhammad menggantikan dirimu                  saat ini?&#8217; Hubaib menjawab, &#8216;Demi Allah, sekalipun aku berada                  di tengah keluarga dan anak-anakku, aku tidak ingin Muhamrnad                  Shallallahu Alaihi wa Sallam terkena duri sekalipun&#8217;. Kemudian                  dia berseru, &#8216;Hai Muhammad, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi                  pada hari itu&#8217;. </font></p>
	<p><font>Sementara saat itu                  aku yang masih musyrik dan belum beriman kepada Allah Yang Maha                  Agung, tidak berusaha untuk menolongnya, sehingga aku beranggapan                  bahwa Allah ta&#8217;ala sama sekali tidak akan mengampuni dosaku. Karena                  itulah barangkali keadaanku akhir-akhir ini seperti orang yang                  akan meninggal dunia.&quot; </font></p>
             </blockquote>
             </div>
	<p align="justify"><font>Umar bin Al-Khaththab                ra. berkata, &quot;Segala puji bagi Allah, karena firasatku tentang dirinya                tidak meleset.&quot; Setelah itu Umar memberinya seribu dinar, seraya                berkata, &quot;Pergunakanlah uang ini untak menunjang tugas-tugasmu.&quot;                Istri Sa&#8217;id ra. berkata kegirangan setelah menerima uang itu, &#8216;Segala                puji bagi Allah yang telah memberikan kecukupan kepada kita atas                tugas yang engkau emban ini.&quot; Sa&#8217;id bertanya kepada istrinya, &quot;Apakah                engkau mau yang lebih baik lagi? Kita akan memberikan uang ini kepada                orang yang lebih membutuhkannya daripada kita. &quot;Boleh,&quot; jawab istrinya.                Lalu Sa&#8217;id memanggil salah seorang anggota keluarganya yang dapat                dipercaya, dan dia memasukkan uang ke dalam beberapa bungkusan,                seraya berkata, &quot;Bawalah bungkusan ini dan berikan kepada janda                keluarga Fulan, orang miskin keluarga Fulan, orang yang terkena                musibah keluarga Fulan. Selebihnya disimpan, Istrinya bertanya,                &quot;Mengapa engkau tidak membeli seorang pembantu? Lalu untuk apa sisa                uang itu?&quot; Sa&#8217;id ra. menjawab, &quot;Sewaktu-waktu tentu akan datang                orang yang lebih membutuhkan uang itu. </font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/said-bin-amir-bin-huzaim-al-jumahy-ra/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Umar ra.</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-umar-ra/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-umar-ra/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:06:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Sahabat</category>
	<category>Kisah Islami</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-umar-ra/</guid>
		<description><![CDATA[	  Dari lbnu Sirrin                katanya, &quot;Suatu ketika aku bersama Ibnu Umar ra. di Arafah. Ketika                ia pulang maka aku pulang bersamanya sehingga kami menjumpai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"> <font> Dari lbnu Sirrin                katanya, &quot;Suatu ketika aku bersama Ibnu Umar ra. di Arafah. Ketika                ia pulang maka aku pulang bersamanya sehingga kami menjumpai imam                maka ia shalat Dzuhur dan Ashar bersama kami, Kemudian ia wukuf                bersamaku dan kawan-kawanku sampai imam turun ke kota Mekkah dan                kami pun ikut turun ke Mekkah bersamanya, Ketika kami sampai di                lorong Ma&#8217;jamani maka ia turun dari untanya dan kami pun melakukan                hal yang sama sehingga kami mengira kalau ia akan mengerjakan shalat.                Kata pelayannya yang senantiasa memegang kendali untanya bahwa sesungguhnya                ia (Ibnu Umar ra.) bukan akan mengerjakan shalat akan tetapi ia                ingat pada Nabi SAW ketika beliau lewat di tempat ini beliau sempat                buang hajat dan ia pun ingin buang hajat semata-mata meniru apa                telah dilakukan oleh beliau SAW&quot; (Ahmad, At-Targhib. 1/47) </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Dikabarkan bahwa lbnu                Umar ra. pernah mendatangi sebuah pohon yang ada di antara Mekkah                dan Madinah. Kemudian ia beristirahat di bawahnya dan ia berkata                bahwasannya ia melakukan hal itu dikarenakan Rasulullah SAW telah                melakukannya.&quot; (Bazzar. Al-Haitsann. 1/ 175, At-Targhib. 1/46)</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Dari Nafi&#8217; bahwasannya                lbnu Umar ra. senantiasa mengikuti jejak Rasulullan SAW. sampai                pun setiap tempat yang pernah Rasuluilah SAW shalat di tempat itu                ia selalu mengikuti beliau SAW. Sehingga di suatu pohon yang Rasulullah                SAW pernah berteduh di bawahnya dan ia selalu menyirami pohonan                tersebut agar tidak mati maka ibnu Umar ra. pun tidak ketinggalan                mengikutinya&quot; <br />               (Ibnu Katsir Kanzul Ummal. 7/59) </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Dari Mujahid katanya.                &quot;Pernah kami berpergian bersama lbnu Umar ra. Ketika tiba di suatu                tempat. maka ia menggoyang ke kiri dan ke kanan. Ketika aku tanyakan.                &quot;Mengapa engkau berbuat demikian?&quot; Ibnu Umar ra. menjawab. &quot;Aku                melihat Rasulullah SAW pernah melakukannya seperti itu di sini,                maka aku menirunya (Ahmad, Bazzar, At-Targhib, 1/46) </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Dari Nafi bahwa Ibnu                Umar ra. pernah berpergian, ketika di jalan menuju kota Mekkah ia                menundukkan kepala kendarannya seraya berkata, &quot;Andaikan telapak                kaki untaku dapat menginjak bekas telapak kaki unta Rasulullah SAW&quot;<br />               (Abu Nuaib. Al-Hilyah.)</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Dari Nafi&#8217; katanya,                &quot;Jikalau engkau melihat apa saja yang dilakukan oleh Ibnu Umar                ra. dalam mengikuti sunah Nabi SAW, pasti engkau akan mengatakan.                &quot;Orang ini gila&quot;. (Abu Nuaim, Al-Hakim, 3/561) </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Dari &#8216;Aisyah rha.                katanya. &quot;Tidak ada seorang pun yang senantiasa mengikuti perilaku                Nabi SAW&quot;. seperti yang dilakukan oleh lbnu Umar ra.&quot;</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Dari Asim Al-Ahwal                dari seorang sahabat katanya, Tidak seorang pun yang melihat kelakuan                Ibnu Umar ra. kecuali ia akan mengira bahwa apa yang dilakukanoleh                Ibnu Umar adalah yang pernah dilakukan oleh Nabi SAW <br />               (Ibnu Nu&#8217;aim dalam bukunya 1/30, Ibnu Sa&#8217;ad dalam bukunya 1/107)                </font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-umar-ra/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ibnu Abbas ra dan Penduduk Dusun</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-abbas-ra-dan-penduduk-dusun/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-abbas-ra-dan-penduduk-dusun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Kisah Islami</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-abbas-ra-dan-penduduk-dusun/</guid>
		<description><![CDATA[	Dari Bakar bin Abdullah.                Ada seorang Arab dusun berkata kepada Ibnu Abbas ra, &quot;Mengapa keluarga                Muawiyah suka memberi air dan madu sedangkan keluarga fulan suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><font>Dari Bakar bin Abdullah.                Ada seorang Arab dusun berkata kepada Ibnu Abbas ra, &quot;Mengapa keluarga                Muawiyah suka memberi air dan madu sedangkan keluarga fulan suka                memberi minum susu, sedangkan keluarga si fulan memberi minum susu,                dan keluargamu suka memberi minum anggur peras. Apakah dikarenakan                kalian pelit ataukah kalian suka minum anggur peras, apakah kalian                pelit atau kah memang itu kesukaanmu?&quot; Jawab Ibnu Abbas ra., &quot;Bukannya                kami pelit dan bukannya kami gemar minum anggur peras, akan tetapi                suatu ketika Rasulullah SAW mendatangi kami. lalu beliau meminta                minum dari kami. maka kami memberinya minuman ini yaitu anggur peras.                Maka beliau pun meminumnya dan bersabda. &quot;Kalian telah berlaku baik.                demikianlah buatlah terus&quot;. (Ahmad)</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Dari Ja&#8217;far bin Tamam                ia berkata, &quot;ada seseorang datang kepada lbnu Abbas r.a. seraya                berkata, &quot;mengapa kalian suka memberi minum kepada orang-orang                dengan minuman dari anggur kering. apakah kalian mengikuti sunnah                ataukah lebih meringankan beban kalian daripada memberi minum susu                dan madu?&quot; Jawab Ibnu Abbas ra. &quot;sesungguhnya Rasulullah SAW                pernah datang kepada Al-Abbas ketika ia sedang memberi minuman kepada                manusia,kata Rasulullah SAW, &quot;Berilah aku minum&quot;. Ia, Al-Abbas memberikan                kepada Rasulullah SAW segelas besar anggur peras. Rasulullah SAW                segera meminumnya, kemudian bersabda, &quot;Bagus engkau kerjakan. Buatlah                selalu minuman seperti ini.&quot; Kata Ibnu Abbas. &quot;Sejak saat itu, maka                aku lebih senang untuk memberi minum anggur peras di karenakan aku                mengikuti jejak Rasulullah SAW&quot; (lbnu Sa&#8217;ad, 6/16)</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/ibnu-abbas-ra-dan-penduduk-dusun/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perjuangan Meninggikan Kalimatullah</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/perjuangan-meninggikan-kalimatullah/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/perjuangan-meninggikan-kalimatullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Kisah Islami</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/perjuangan-meninggikan-kalimatullah/</guid>
		<description><![CDATA[	Abu Nu&#8217;aim telah memberitakan                dari Jubair bin Nufair dari ayahnya, katanya: Ketika sedang kami                duduk-duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad r.a. pada suatu hari,   [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="justify"><font>Abu Nu&#8217;aim telah memberitakan                dari Jubair bin Nufair dari ayahnya, katanya: Ketika sedang kami                duduk-duduk dengan Al-Miqdad bin Al-Aswad r.a. pada suatu hari,                tiba-tiba datang kepadanya seorang lelaki, lalu berkata: Beruntunglah                kedua belah mata yang telah melihat Rasulullah SAW. Demi Allah,                kami sungguh bercita-cita jika dapat melihat apa yang engkau lihat,                dan menyaksikan apa yang engkau saksikan, engkau telah mendengar,                lalu engkau merasa kagum dari kebaikan yang dikatakan kepadamu!                </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Mendengar itu, Al-Miqdad                bin Al-Aswad pun menghadapinya seraya berkata: Mengapa sampai ada                seseorang di antara kamu yang bercita-cita untuk berada dalam sesuatu                zaman yang telah dilewatkan oleh Allah azzawajalla, padahal dia                sendiri masih tidak yakin apa yang terjadi ke atas dirinya sekiranya                dia hadir pada zaman itu! Demi Allah, telah hadir di zaman Rasulullah                SAW itu beberapa kaum, yang akan ditelungkupkan muka mereka menghujam                neraka jahannam, karena mereka tidak menyambut seruannya dan tidak                mempercayainya sama sekali. Bukan sebaiknya kamu bersyukur kepada                Allah, karena Dia tiada melahirkan kamu, melainkan kamu telah mengenal                Tuhan kamu serta mempercayai apa yang dibawa oleh Nabi kamu &#8216;alaihis-salam,                sedang kamu terhindar dari azab yang ditimpakan ke atas selain kamu                itu? Demi Allah, sungguh Nabi SAW telah dibangkitkan pada suatu                zaman yang sangat berat yang pernah dibangkitkan dari para Nabi                yang sebelumnya. Beliau dibangkitkan pada masa yang penuh kerusakan                dan jahiliah, yang mana manusia memandang agama itu tiada yang lebih                baik dari menyembah berhala sebagai tuhan. Lalu beliau didatangkan                membawa Al-Quran yang membedakan antara yang hak dengan yang batil,                memisahkan antara ayah dan anaknya, sehingga ada orang yang mendapati                ayahnya, atau anaknya, atau saudaranya sendiri kafir, sedang Allah                telah membuka kunci hatinya untuk menampung iman, dan dia mengetahui                akan binasalah siapa yang memasuki api neraka itu, sehingga tidak                betah lagi pemikirannya karena dia mengetahui bahwa ada orang yang                paling dekat kekerabatnya berada di dalam api neraka! Dan hal itu                tepat sekali dengan apa yang disebutkan Allah azzawajalla &#8216;Tuhan                kami! jadikanlah anak isteri kami penyelamat bagi kami!&#8217; <br />               (Hilyatul Auliya&#8217; 1:175)</font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font> Ibnu Ishak memberitakan                dari Muhammad bin Ka&#8217;ab Al-Qurazhi, katanya:pernah suatu kali telah                datang seorang dari penduduk Kufah, lalu berkata kepada Huzaifah                bin Al-Yaman ra.: &#8216;Hai Abu Abdullah!&#8217; kata orang ahli Kufah itu.                &#8216;Apakah engkau telah melihat Rasulullah dan bersahabat dengannya?&#8217;                &#8216;Ya, wahai saudaraku! &#8216; jawab Huzaifah. &#8216;Apakah yang sudah kamu                lakukan terhadap beliau, coba ceritakan!&#8217; pinta orang dari Kufah                itu. &#8216;Kami lakukan apa yang semampu kami saja,&#8217;jawab Huzaifah.<br />               </font><font>&#8216;Demi Allah,&#8217;kata                orang itu,&#8217;jika kita yang menemuinya pada zaman itu, niscaya kami                tidak membiarkannya berjalan di atas bumi sama sekali, niscaya kami                memikulnya di atas punggung kami!&#8217; <br />               &#8216;Apa katamu, wahai saudaraku?!&#8217;tanya Huzaifah.&#8217;Demi Allah, aku masih                ingat ketika hari menggali parit (Khandak) itu, aku dapati betapa                susah-payahnya Rasulullah menanggung lapar dan dahaga, menanggung                udara yang dingin dan merasa takut sekali!&#8217; </font></p>
	<div align="justify">             </div>
	<p align="justify"><font>Dalam riwayat Muslim,                maka berkata Huzaifah: &quot;Engkau mengatakan yang engkau akan                berbuat begitu kepada Rasulullah SAW? Aku pernah menyaksikan mereka                bersama Rasulullah SAW pada malam perang Ahzab, pada suatu malam                yang berangin sangat kencang dengan udaranya yang sangat dingin,                betapa mereka menanggung semua itu. Kemudian Huzaifah melarang mereka                mengatakan seperti itu terhadap para sahabat. </font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/perjuangan-meninggikan-kalimatullah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Usamah bin Ziad R.A - Sang Panglima</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/usamah-bin-ziad-ra-sang-panglima/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/usamah-bin-ziad-ra-sang-panglima/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Jul 2008 11:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Sahabat</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/usamah-bin-ziad-ra-sang-panglima/</guid>
		<description><![CDATA[	               Ibnu Asakir telah memberitakan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Usamah                bin Zaid ra. bahwa Rasulullah SAW memerintahkannya untuk menyerang       [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify"><font>               Ibnu Asakir telah memberitakan dari Az-Zuhri dari Urwah dari Usamah                bin Zaid ra. bahwa Rasulullah SAW memerintahkannya untuk menyerang                suku kaum Ubna pada waktu pagi dan membakar perkampungannya. </font></div>
	<div align="justify"><font>Maka                Rasulullah SAW berkata kepada Usamah: </font></div>
	<div align="justify"><font>&quot;Berangkatlah dengan                nama Allah!&quot;.</font></div>
	<div align="justify"><font> Kemudian Rasulullah SAW keluar membawa bendera                perangnya dan diserahkannya ke tangan Buraidah bin Al-Hashib Al-Aslami                ra. untuk dibawa ke rumah Usamah ra. Beliau juga memerintahkan Usamah                untuk membuat markasnya di Jaraf di luar Madinah sementara kaum                Mukmin membuat persiapan untuk keluar berjihad. Maka Usamah ra.                mendirikan kemahnya di suatu tempat berdekatan dengan Siqayat Sulaiman                sekarang ini. Maka mulailah orang berdatangan dan berkumpul di tempat                itu. Siapa yang sudah selesai kerjanya segera datang ke perkemahan                itu, dan siapa yang masih ada urusan diselesaikan urusannya terlebih                dahulu. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Tiada seorang pun dari kaum Muhajirin yang unggul, melainkan dia                ikut dalam pasukan jihad ini, termasuk Umar bin Al-Khatthab, Abu                Ubaidah, Sa&#8217;ad bin Abu Waqqash, Abul A&#8217;war Said bin Zaid bin Amru                bin Nufail radiallahuanhum dan banyak lagi para pemuka Muhajirin                yang ikut serta. Dari kaum Anshar pun di antaranya Qatadah bin An-Nu&#8217;man                dan Salamah bin Aslam bin Huraisy ra.huma dan lain-lain. Ada di                antara kaum Muhajirin yang kurang setuju dengan pimpinan Usamah                ra. itu, karena usianya masih terlalu muda (18 tahun). Di antara                orang yang banyak mengkritiknya ialah Aiyasy bin Abu Rabi&#8217;ah ra.                dia berkata: </font></div>
	<div align="justify"><font>&quot;Bagaimana Rasuluilah mengangkat anak muda yang                belum berpengalaman ini, padahal banyak lagi pemuka-pemuka kaum                Muhajirin yang pernah memimpin perang&quot;. karena itulah banyak                desas-desus yang memperkecilkan kepemimpinan Usamah ra. Umar bin                Al-Khatthab ra. menolak pendapat tersebut serta menjawab keraguan                orang ramai. Kemudian dia menemui Rasulullah SAW serta memberitahu                tentang apa yang dikatakan orang ramai tentang Usamah. Beliau SAW                sangat marah, lalu memakai sorbannya dan keluar ke masjid. Bila                orang ramai sudah berkumpul di situ, beliau naik mimbar, memuji-muji                Allah dan mensyukurinya, lalu berkata: </font></div>
	<div align="justify">
<blockquote><font>&quot;Amma ba&#8217;du! Wahai sekalian                manusia! Ada pembicaraan yang sampai kepadaku mengenai pengangkatan                Usamah? Demi Allah, jika kamu telah menuduhku terhadap pengangkatanku                terhadap Usamah, maka sebenarnya kamu juga dahulu telah menuduhku                terhadap pengangkatanku terhadap ayahnya, yakni Zaid. Demi Allah,                si Zaid itu memang layak menjadi panglima perang dan puteranya si                Usamah juga layak menjadi panglima perang setelahnya. Kalau ayahnya                si Zaid itu sungguh sangat aku kasihi, maka puteranya juga si Usamah                sangat aku kasihi. Dan kedua orang ini adalah orang yang baik, maka                hendaklah kamu memandang baik terhadap keduanya, karena mereka juga                adalah di antara sebaik-baik manusia di antara kamu!&quot;. </font><br /></blockquote>
 <font>               </font><br /> <font>               Sesudah itu, beliau turun dari atas mimbar dan masuk ke dalam rumahnya,                pada hari Sabtu, 10 Rabi&#8217;ul-awal. Kemudian berdatanganlah kaum Muhajirin                yang hendak berangkat bersama-sama pasukan Usamah itu kepada Rasulullah                SAW untuk mengucapkan selamat tinggal, di antaranya Umar bin Al-khatthab                ra. dan Rasulullah SAW terus mengatakan kepada mereka: &quot;Biarkan                segera Usamah berangkat! Seketika itu pula Ummi Aiman ra. (yaitu                ibu Usamah) mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata: &quot;Wahai                Rasulullah! Bukankah lebih baik, jika engkau biarkan Usamah menunggu                sebentar di perkemahannya, sehingga engkau merasa sehat, karena,                jika Usamah ra. berangkat juga dalam keadaan seperti ini, tentulah                dia akan merasa bimbang dalam perjalanannya!&quot;. Tetapi Rasulullah                SAW tetap mengatakan: &quot;Biarkan segera Usamah berangkat!&quot;.</font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Orang ramai sudah berkumpul di perkemahan pasukan Usamah itu, dan                mereka menginap di situ pada malam minggu itu. Usamah datang lagi                kepada Rasulullah SAW pada hari Ahad dan Beliau SAW terlalu berat                sakitnya, sehingga mereka memberikannya obat. Usamah menemui Beliau                sedang kedua matanya mengalirkan air mata. Ketika itu Al-Abbas berada                di situ, dan di sekeliling Beliau ada beberapa orang kaum wanita                dari kaum keluarganya. Usamah menundukkan kepalanya dan mencium                Rasulullah SAW sedang Beliau tidak berkata apa-apa, selain mengangkat                kedua belah tangannya ke arah langit serta mengusapkannya kepada                Usamah. Berkata Usamah: &quot;Aku tahu bahwa Rasulullah SAW mendoakan                keberhasilanku. Aku kemudian kembah ke markas pasukanku&quot;. &quot;Pada                besok harinya, yaitu hari Senin, aku menggerakkan pasukanku sehingga                kesemuanya telah siap untuk berangkat. Aku mendapat berita bahwa                Rasulullah SAW telah segar sedikit, maka aku pun datang sekali lagi                kepadanya untuk mengucapkan selamat tinggal, kata Usamah&quot;.                Beliau berkata kepadaku: &quot;Usamah! Berangkatlah segera dengan                diliputi keberkatan dari Allah!&quot;. Aku lihat isteri-isterinya                cerah wajah mereka karena gembira melihat beliau sedikit segar pada                hari itu. Kemudian datang pula Abu Bakar ra. dengan wajah yang gembira,                seraya berkata:&quot;Wahai Rasulullah! Engkau terlihat lebih segar                hari ini, Alhamduillah. Hari ini hari pelangsungan pernikahan puteri                Kharijah, izinkanlah aku pergi&quot;. Maka Rasulullah SAW mengizinkannya                pergi ke Sunh (sebuah perkampungan di luar kota Madinah), Usamah                ra. pun kembali kepada pasukannya yang sedang menunggu penntahnya                untuk bergerak, dan dia telah memerintahkan siapa yang masih belum                berkumpul di markasnya supaya segera datang karena sudah tiba waktunya                untuk bergerak. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Belum jauh pasukan itu meninggalkan Jaraf, tempat markas perkemahannya,                datanglah utusan dari Ummi Aiman memberitahukan bahwa Rasulullah                SAW telah kembali ke rahmatullah. Usamah segera memberhentikan pergerakan                pasukan itu, dan segera menuju ke kota Madinah bersama-sama dengan                Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke rumah Rasulullah SAW dan mereka                mendapati beliau telah meninggal dunia. Beliau wafat ketika matahari                tenggelam pada hari Senin malam 12 Rabi&#8217;ul-awal. Kaum Muslimin yang                bermarkas di Jaraf tidak jadi berangkat ke medan perang, lalu kembali                ke Madinah. Buraidah bin Al-Hashib yang membawa bendera Usamah,                lalu menancapkannya di pintu rumah Rasulullah SAW. Sesudah Abu Bakar                ra. diangkat menjadi Khalifah Rasulullah SAW dia telah menyuruh                Buraidah ra. mengambil bendera perang itu dan menyerahkan kepada                Usamah, dan supaya tidak dilipat sehingga Usamah memimpin pasukannya                berangkat ke medan perang Syam. Berkata pula Buraidah: &quot;Aku                pun membawa bendera itu ke rumah Usamah , dan pasukan itu pun bergerak                menuju ke Syam&quot;. Setelah selesai tugas kami di Syam, kami kembali                ke Madinah dan bendera itu terus saya tancapkan di rumah Usamah                sehingga Usamah meninggal dunia. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Apabila berita wafatnya Rasulullah SAW sampai kepada kaum Arab,                sebagian mereka telah murtad keluar dari agama Islam. Abu Bakar                ra. memanggil Usamah lalu menyuruhnya supaya menyiapkan diri untuk                berangkat memerangi bangsa Romawi sebagaimana yang diperintahkan                oleh Rasulullah SAW sebelum wafatnya dahulu. pasukan Islam mulai                berkumpul lagi di Jaraf di perkemahan mereka dulu. Buraidah ra.                yang diamanahkan untuk memegang bendera perang telah berada di markasnya                di sana. Tetapi para pemuka kaum Muhajirin yang terutama, seperti                Umar, Usman, Abu Ubaidah, Sa&#8217;ad bin Abu Waqqash, Said bin Zaid dan                lainnya mereka telah datang kepada Khalifah Abu Bakar ra. seraya                berkata: &quot;wahai Khalifah Rasulullah! Sesungguhnya kaum Arab                sudah mula memberontak, dan adalah tidak wajar engkau akan membiarkan                pasukan Islam ini meninggalkan kami pada masa ini. Bagaimana kalau                engkau pecahkan pasukan ini menjadi dua. Yang satu untuk engkau                kirimkan kepada kaum Arab yang murtad itu untuk mengembalikan mereka                kepada Islam, dan yang lain engkau pertahankan di Madinah untuk                menjaganya, siapa tahu kalau-kalau ada yang datang untuk menyerang                kita dari mereka itu. Kalau tidak, maka yang tinggal di sini hanya                anak-anak kecil dan wanita saja, bagaimana mereka dapat mempertahankannya?                Seandainya engkau menangguhkan memerangi kaum Romawi itu, sehingga                keadaan kita dalam negeri aman, dan kaum Arab yang murtad itu kembali                ke pangkuan kita, ataupun kita kalahkan mereka terlebih dahulu,                kemudian kita mengirim pasukan kita untuk memerangi bangsa Romawi                itu, bukankah itu lebih baik?! Kita pun tidak merasa bimbang dari                bangsa Romawi itu untuk datang menyerang kita pada masa ini!. Abu                Bakar ra. hanya mendengar bermacam-macam pandangan dari para pemuka                Muhajirin itu. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Setelah selesai mereka berkata, maka Abu Bakar ra. bertanya lagi:                Adakah yang mau memberikan pendapatnya lagi, atau kamu semua telah                memberikan pendapat kamu?! jawab mereka: &quot;Kami sudah berikan                apa yang harus kami sampaikan!&quot;. &quot;Baiklah, kalau begitu.                Saya telah dengar semua apa yang hendak kamu katakan itu&quot;,                ujar Abu Bakar. Demi jiwaku yang berada di tangannya! Kalau aku                tahu bahwa aku akan dimakan binatang buas sekalipun, niscaya aku                tetap akan mengutus pasukan ini ke tujuannya, dan aku yakin bahwa                dia akan kembali dengan selamat. Betapa tidak, sedang Rasulullah                SAW yang telah diberikan wahyu dari langit telah berkata: &quot;Berangkatkan                segera pasukan Usamah&quot;. Tetapi ada suatu hal yang akan aku                beritahukan kepada Usamah sebagai panglima pasukan itu. Aku minta                darinya supaya memembiarkan Umar tetap tinggal di Madinah untuk                membantuku di sini, karena aku sangat perlu kepada bantuannya. Demi                Allah, aku tidak tahu apakah Usamah setuju atau tidak. Demi Allah,                jika dia enggan membenarkan sekalipun, aku tidak akan memaksanya!                Kini tahulah para pemuka Muhajirin itu, bahwa khalifah mereka yang                baru itu telah berazam sepenuhnya untuk mengirim pasukan Islam,                sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW sebelumnya. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Abu Bakar ra. lalu pergi ke rumah Usamah ra., dan memintanya agar                membiarkan Umar ra. tinggal di Madinah untuk membantunya. Usamah                ra. setuju. Untuk meyakinkan dirinya, maka Abu Bakar ra. berkata                lagi: &quot;Benar engkau mengizinkannya dengan hati yang rela?&quot;                Jawab Usamah: &quot;ya!&quot;. Khalifah Abu Bakar ra. lalu mengeluarkan                perintah supaya tidak ada seorang pun mengelakkan dirinya dari menyertai                pasukan Usamah itu sesuai dengan perintah Rasulullah SAW sebelum                wafatnya. Dia berkata lagi: &quot;Siapa saja yang melewatkan dirinya                untuk keluar, niscaya aku akan menyuruhnya mengejar pasukan itu                dengan berjalan kaki&quot;. Kemudian Abu Bakar ra. memanggil orang-orang                yang pernah mengecil-ngecilkan pengangkatan Usamah sebagai panglima                perang, dan memarahi mereka serta menyuruh mereka ikut keluar bersama-sama                pasukan itu, sehingga tiada seoran pun yang berani memisahkan dirinya.                Apabila pasukan itu sudah mulai bergerak, Abu Bakar ra. datang untuk                mengucapkan selamat berangkat kepada mereka. Usamah mendahului para                sahabatnya dari Jaraf, dan mereka kurang lebih 3,000 orang, di antaranya                ada 1,000 orang yang menunggang kuda. Abu Bakar ra. berjalan kaki                di sisi Usamah ra. untuk mengucapkan selamat jalan kepadanya: &quot;Aku                serahkan kepada Allah agamamu, amanatmu dan kesudahan amalmu! Sesungguhnya                Rasulullah SAW sudah berpesan kepadamu, maka laksanakanlah segala                pesannya itu, dan aku tidak ingin menambah apa-apa pun, tidak akan                menyuruhmu apa pun atau melarangmu dari apa pun. Aku hanya menjalankan                apa yang diperintahkan oleh Rasuluflah SAW saja&quot;. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               Usamah ra. dan pasukannya maju dengan cepat. Dia telah melalui beberapa                negeri yang tetap mematuhi Madinah dan tidak keluar dari Islam,                seperi Juhainah dan lainnya dari suku kaum Qudha&#8217;ah. Apabila dia                tiba di Wadilqura, Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani                Adzrah, dikenal dengan nama Huraits. Dia maju meninggalkan pasukan                itu, hingga tiba di LThna dan dia coba mendapatkan berita di sana,                kemudian dia kembali secepatnya dan baru bertemu dengan pasukan                Usamah sesudah berjalan selama dua malam dari Ubna itu. Huraits                lalu memberitahu Usamah, bahwa rakyat di situ masih belum berbuat                apa-apa. Mereka belum berkumpul untuk menentang pasukan yang mereka,                dan mengusulkan supaya pasukan Usamah segera menggempur sebelum                mereka dapat mengumpulkan pasukan. </font><br /> <font>               </font><br /> <font>               (Ibnu Asakir: At-Tarikh 1:120, Kanzul Ummal 5:312. Fathul Bari 8:107)                </font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/07/19/usamah-bin-ziad-ra-sang-panglima/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Drajat</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-drajat/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-drajat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:55:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Tokoh Islam</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-drajat/</guid>
		<description><![CDATA[	Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M.   Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog (pesisir Banjarwati atau Lamongan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify"><font color="#505050">Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan <a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/" target="_self" title="Sunan Bonang">Sunan Bonang</a>. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun Jelog (pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang). Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran - Lamongan. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan <a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/" target="_self" title="Sunan Muria">Sunan Muria</a>. Terutama seni suluk. Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah &quot;berilah tongkat pada si buta / beri makan pada yang lapar / beri pakaian pada yang telanjang&#8217;. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim piatu dan fakir miskin.</font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-drajat/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Bonang</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:38:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Tokoh Islam</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/</guid>
		<description><![CDATA[	Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. 
	  Sunan Bonang belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify">Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban. </p>
	<p><a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/" target="_self" title="Sunan Bonang">  Sunan Bonang</a> belajar agama dari pesantren ayahnya di Ampel Denta. Setelah cukup dewasa, ia berkelana untuk berdakwah di berbagai pelosok Pulau Jawa. Mula-mula ia berdakwah di Kediri, yang mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Di sana ia mendirikan Masjid Sangkal Daha. </p>
	<p>  Ia kemudian menetap di Bonang -desa kecil di Lasem, Jawa Tengah -sekitar 15 kilometer timur kota Rembang. Di desa itu ia membangun tempat pesujudan/zawiyah sekaligus pesantren yang kini dikenal dengan nama Watu Layar. Ia kemudian dikenal pula sebagai imam resmi pertama Kesultanan Demak, dan bahkan sempat menjadi panglima tertinggi. Meskipun demikian, Sunan Bonang tak pernah menghentikan kebiasaannya untuk berkelana ke daerah-daerah yang sangat sulit. </p>
	<p>  Ia acap berkunjung ke daerah-daerah terpencil di Tuban, Pati, Madura maupun Pulau Bawean. Di Pulau inilah, pada 1525 M ia meninggal. Jenazahnya dimakamkan di Tuban, di sebelah barat Masjid Agung, setelah sempat diperebutkan oleh masyarakat Bawean dan Tuban. </p>
	<p>  Tak seperti Sunan Giri yang lugas dalam fikih, ajaran Sunan Bonang memadukan ajaran ahlussunnah bergaya tasawuf dan garis salaf ortodoks. Ia menguasai ilmu fikih, usuludin, tasawuf, seni, sastra dan arsitektur. Masyarakat juga mengenal Sunan Bonang sebagai seorang yang piawai mencari sumber air di tempat-tempat gersang. </p>
	<p>  Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat &#8216;cinta&#8217;('isyq). Sangat mirip dengan kecenderungan Jalalludin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan iman, pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui media kesenian yang disukai masyarakat. Dalam hal ini, Sunan Bonang bahu-membahu dengan murid utamanya, Sunan Kalijaga. </p>
	<p>  Sunan Bonang banyak melahirkan karya sastra berupa suluk, atau tembang tamsil. Salah satunya adalah &quot;Suluk Wijil&quot; yang tampak dipengaruhi kitab Al Shidiq karya Abu Sa&#8217;id Al Khayr (wafat pada 899). Suluknya banyak menggunakan tamsil cermin, bangau atau burung laut. Sebuah pendekatan yang juga digunakan oleh Ibnu Arabi, Fariduddin Attar, Rumi serta Hamzah Fansuri. </p>
	<p>  Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa yang saat itu kental dengan estetika Hindu, dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi kreator gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transedental (alam malakut). Tembang &quot;Tombo Ati&quot; adalah salah satu karya Sunan Bonang. </p>
	<p>  Dalam pentas <a href="http://sastroyuwono.blogspot.com" target="_blank" title="Wayang">pewayangan</a>, Sunan Bonang adalah dalang yang piawai membius penontonnya. Kegemarannya adalah menggubah lakon dan memasukkan tafsir-tafsir khas Islam. Kisah perseteruan Pandawa-Kurawa ditafsirkan Sunan Bonang sebagai peperangan antara nafi (peniadaan) dan &#8216;isbah (peneguhan).</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-bonang/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Kudus</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kudus/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kudus/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Tokoh Islam</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kudus/</guid>
		<description><![CDATA[	Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang.   Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify"><font color="#505050">Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"><a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kudus/" target="_self" title="Sunan Kudus"> Sunan Kudus</a> banyak berguru pada <a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/" target="_self" title="Sunan Kalijaga">Sunan Kalijaga.</a> Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali (yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh) menunjuknya. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang berarti &quot;sapi betina&quot;. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.</font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kudus/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sunan Kalijaga</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:29:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Tokoh Islam</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/</guid>
		<description><![CDATA[	Dialah &quot;wali&quot; yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam.   Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify"><font color="#505050">Dialah &quot;wali&quot; yang namanya paling banyak disebut masyarakat <a href="http://sastroyuwono.blogspot.com" target="_blank" title="Kejawen">Jawa</a>. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut <a href="http://pesantren.blogsome.com" target="_self" title="Pesantren">Islam</a>. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Nama kecil <a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/" target="_self" title="Sunan Kalijaga">Sunan Kalijaga</a> adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya,Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.</font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (&#8217;kungkum&#8217;) di sungai (kali) atau &quot;jaga kali&quot;. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab &quot;qadli dzaqa&quot; yang menunjuk statusnya sebagai &quot;penghulu suci&quot; kesultanan. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang &quot;tatal&quot; (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Dalam <a href="http://pesantren.blogsome.com/category/dakwah/" target="_self" title="Dakwah">dakwah</a>, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung &quot;sufistik berbasis salaf&quot; -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede - Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.</font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> [pesantren.net]</font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sunan-kalijaga/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Mengenai Sunan Muria</title>
		<link>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/</link>
		<comments>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 06:27:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tukang Santri</dc:creator>
		
	<category>Tokoh Islam</category>
		<guid>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/</guid>
		<description><![CDATA[	Ia putra Dewi Saroh (adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak), dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus.   Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="justify"><font color="#505050">Ia putra Dewi Saroh (adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak), dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, <a href="http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/" target="_self" title="Sunan Muria">Sunan Muri</a>a lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya. </font><br /><font color="#505050"> </font><br /><font color="#505050"> Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518 - 1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.</font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pesantren.blogsome.com/2008/06/16/sekilas-mengenai-sunan-muria/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
